;
headline photo
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Ind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Ind. Tampilkan semua postingan

MEDIA TRADISIONAL

Selasa, 20 April 2010

A. Pengertian Media Tradisional
Dongeng adalah salah satu media tradisional yang pernah popular di Indonesia. Pada masa silam, kesempatan untuk mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena merupakan bagian dari kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng merupakan cara berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk menanamkan nilai-nilai sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Selengkapnya...

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN EKONOMI

Senin, 22 Maret 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena ats rahmat dan petunjuk-Nya, serta berkat rahmat, nikmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini.Makalah ini berjudul “Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi” yang penulis susun dari berbagai sumber, yang merupakan salah satu tugas pancasila.
Selengkapnya...

Gambaran Umum Karya Sastra

Karya sastra memang berperan penting sebagai media untuk memperjuangkan suatu pemikiran, sikap, dan perilaku tertentu yang dicita-citakan oleh pengarangnya. Namun jika tujuan/tendensi itu terlalu kuat dan mengabaikan aspek-aspek estetis, maka terjadilah proses ideologisasi. Proses ideologisasi ini dapat juga ditelusuri dari perdebatan tentang sastra religius dan sekuler yang sedang marak.
Pelabelan sastra religius dan tidak religius (sekuler) di Indonesia saat ini sangat menarik untuk didiskusikan. Alasannya, pendikotomian tersebut mempunyai potensi untuk memberikan penilaian hitam putih, baik dan buruk pada sebuah karya sastra, juga terhadap sifat dan perilaku tokoh yang diimajikan. Potensi lainnya adalah menghadapkan hubungan antar golongan (khususnya kelompok agama).
Selengkapnya...

Penggolongan kata

Rabu, 24 Februari 2010

1. Prinsip Penggolongan Kata
Dalam menggolongkan kata, Ramlan menggolongkannya secara formal. Kata formal merupakan bentuk kata sifat dari kata form yang berarti bentuk atau ujud. Jadi penggolongan secera formal maksudnya penggolongan jenis kata yang dilakukan Ramlan ini berdasarkan struktur fonologik den gramatik. Hal ini berbeda dengan pendekatan yang dipergunakan oleh pakar bahasa tradisional yang memandang kata dari segi arti.
Selengkapnya...

Surat Dan Pembagianya

Surat adalah alat komunikasi tertulis.agar komunikasi berfungsi secara efektif,dalam suratresmi ,misalnya terdapat aturan-aturan tertentu yang tidak dimiliki oleh jenis surat lainnya.at5uran tersebut,antara lain,berupa struktur penulisan dan unsure-unsure pembentukanvSurat adalah alat komunikasi tertulis.agar komunikasi berfungsi secara efektif,dalam suratresmi ,misalnya terdapat aturan-aturan tertentu yang tidak dimiliki oleh jenis surat lainnya.at5uran tersebut,antara lain,berupa struktur penulisan dan unsure-unsure pembentukan
Surat niaga adaalh jenis surat yang isinya berhubungan dengan kepentingan –kepentingan niaga aatu perdagangan.
Selengkapnya...

Pengertian Drama dan Teater

Jumat, 19 Februari 2010

ARTI DRAMA
1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.
Selengkapnya...

ANALISIS SEMIOTIK PADA PUISI BELAJAR DARI OMBAK

Sabtu, 19 Desember 2009

TENTANG SITOKS RENGENGE
Sitok Srengenge adalah seorang diantara 20 exceptional people di asia yang dinobatkan Asia week sebagai Leaders for the Millenium in Society & Culture.
Lahir di Dorolegi, sebuah perkampungan petani dengan tradisi sastra lisan yang kukuh, di pedalaman Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pada usia ke duapuluh ia hijrah ke Jakarta untuk mendalami teater, bahasa dan sastra.
Sitok menulis sejumlah puisi, prosa, esai , dan sejumlah nonsense. Selain terkumpul dalam Kelenjar Bekisar Jantan, ada Peresetubuhan Liar, Anak Jadah, dan Nonsense. Puisi-puisi Sitok menjadi bagian buku The Poet’s Chant (1995), Chant of Nusantara (Sovia, Bulgaria, 1995), Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1965-1999 (Ohio University, Ohio, USA, 2001), juga masuk dalam website Poetry International Kegiatan terakhir Sitok saat ini aktif sebagai koordinator program dan jaringan Komunitas Utan Kayu dan juga Jurnal Kebudayaan Kalam. Belajar Dari Ombak, adalah salah satu puisi karya Sitok yang ditulisnya pada tahun 1989 terangkum dalam buku kumpulan puisinya yang dia beri tajuk Kelenjar Bekisar Jantan ini. Ada sekitar 54 puisI lainnya yang tercantum dalam kumpulan ini yang sebagian besar berbicara mengenai cinta, sakit, bahagia, sengsara dan bahkan marah ia tuangkan seluruhnya dengan tataran bahasa yang lugas dan komunikatif bagi para pembaca untuk dapat menghayati perasaan yang tergambar dari kata-kata yang ia ciptakan. Puisi Belajar Dari Ombak (BDO), adalah puisi yang dipilih oleh penulis untuk selanjutnya dianalisis dan dipelajari maknanya melalui pendekatan semiotik. Diharapkan melalui pendekatan ini dapat diambil makna apa yang terkandung didalamnya



KONSEP SEMIOTIK DALAM KARYA SASTRA
Dalam pandangan semiotik, Saussure memandang; bahasa merupakan suatu sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna. Pengertian tanda memiliki sejarah yang panjang yang bermula dalam tulisan-tulisan Yunani Kuno. (Masinambow 2002: iii). Dengan demikian tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain pada batas-batas tertentu. Tanda inilah yang kemudian dikenal dengan semotik dan semiologi. Banyak disiplin yang menggunakan konsep ini diantaranya adalah; antropologi, arkeologi, arsitektur, filsafat, kesusastraan, dan linguistik. Hal ini berarti bahwa sebagai sistem teoritis yang mengkaji makna dapat ditampung berbagai perspektif makna yang berkembang dalam penelitian setiap disiplin. Dalam semiotik makna didefinisikan secara erat dengan tanda, namun hubungan antar makna dan tanda dikonseptualkan secara berbeda jika pendirian teoritis berbeda. Adapun semotik berkembang dengan masing-masing tokoh yang dimilikinya. Ferdinand de Saussure (1857-1913) adalah pengembang bidang ini di Eropa, dia memperkenalkannya dengan istilah semiologi. sedangkan Charles Sanders Peirce (1839-1914) yang mengembangkannya di Amerika dengan menggunakan istilah semiotik. Kedua tokoh inilah yang membawa pengaruh besar dalam memahami dan menganalisis sebuah disiplin dengan menggunakan pendekatan semiotik. Ada sedikit perbedaan yang dimunculkan dari kedua tokoh tersebut mengenai pendekatan mereka dengan menggunakan semiotic. Peirce lebih menekankan pada aspek logika karena dia adalah seorang ahli filsafat. Sedangkan Saussure lebih menekankan pada aspek bahasa karena sesuai dengan keahliannya di bidang linguistik.

Seperti yang didituliskan dalam kumpulan makalah semiotik, Okke K. S. Zaimar menjelaskan bahwa karya sastra merupakan sistem tanda tingkat kedua karena menggunakan bahasa sebagai bahan dasarnya. Karena itulah menganalisis dengan pendekatan semiotik menggunakan teori-teori yang bersumber pada linguistik. (Okke. 2002: 124) Meskipun pada dasarnya teori bahasalah yang paling tepat dalam menganalisis sebuah karya sastra terutama puisi, menurutnya tidak menutup kemungkinan analisis ini menggunaan teori Peirce. Teori Peirce mengatakan bahwa sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda yang disebut dengan representamen--- haruslah mengacu pada atau mewakili sesuatu yang disebutnya sebagai objek yang dikenal dengan istilah referent. Jadi, jika sebuah tanda mengacu apa yang diwakilinya, hal itu dalah fungsi utama tanda tersebut. Misalnya, anggukan kepala sebagai tanda persetujuan, dan geleng kepala sebagai tanda ktidaksetujuan. Proses perwakilan ini disebut dengan semiosis. Adapun proses semiosis menuntut kehadiran bersama antara tanda, objek dan intepretant. Proses semiotik dapat terjadi secara terus-menerus sehingga sebuah intepretant menghasilkan tanda baru yang mewakili objek yang baru pula dan akan menghasilakan intepretant yang lain lagi. (Nurgiantoro.2002: 41)
Selanjutnya Peirce menambahkan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis tanda; (1) Icon, merupakan hubungan kemiripan. Misalnya foto. Lalu (2) Indeks, merupakan hubungan kedekatan eksistensi. Misalanya asap hitam tebal membumbung sebagai tanda adanya kebakaran. Dan yang terakhir adalah (3) Simbol, merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensi. Warna hitam di negara kita disepakati sebagai warna yang melambangkan kedukaan dan hal yang mistis. Sedangkan putih adalah warna yang melambangkan kesucian dan ketulusan. Dan bahasalah yang kemudian menjadi alat penyebutannya. (Nurgiantoro.2002: 42)
Dalam teks sastra ketiga jenis tanda tersebut di atas, kehadirannya kadang tidak dapat dipisahkan. Karena ketiga tanda itu sama pentingnya dalam teks yang memang menggunakan bahasa sebagai alat penyamapaiannya. Selanjutnya, dalam menganalisis sebuah karya sastra dalam hal ini puisi, Peirce penggunaan dua aspek. Diantaranya; aspek sintaksis dan aspek semantis. (Okke. 2002: 124). Ketiga aspek tersebut selanjutnya langsung dapat dipahami melalalui analisis puisi BDO karangan Sitok Srengenge.



ANALISIS ASPEK SEMANTIS

Puisi BDO cukup pendek. Seluruh lariknya ditulis dalam bentuk bait yang disusun menjorok ke dalam pada setiap permulaan kalimat menyerupai ikon ombak. Ada tiga larik yang tersusun dalam satu baitnya dan puisi ini memiliki 4 bait. Jika dihitung jumlah kalimat secara keseluruhan, sebenarnya puisi BDO ini hanya memiliki 4 kalimat saja, meskipun setiap kalimat tidak diakhiri dengan tanda baca titik sebagai akhir kalimat. Hal inilah yang dapat melahirkan interpretasi yang luas untuk memaknai puisi ini. Kita katakan saja bahwa puisi ini memiliki 4 kalimat yang terdiri dalam 4 bait dan 3 larik dalam satu baitnya. Bait pertama yang berjumlah 3 larik diawali dengan kalimat Dengan ombak laut selalu berkata-kata, tapi tak terungkap yang terpendam di dalamnya, biarlah aku belajar menyimpan rahasia. Kalimat dalam bait pertama merupakan ujaran penutur (aku) yang seakan menekankan pada judul untuk mengajak kita belajar sesuatu pada ombak di laut yang memang seakan berkata pada perkataan tanpa bahasa. Gelagat ombak sebagi cerminan tidak semua kata harus diungkapkan, maka tokoh aku berpegangang pada kebisuan ombak sebagai inginya untuk belajar menyimpan rahasia (bahasa yang tak perlu diungkapkan). Sedangkan pada bait kedua, penutur seperti menggunakan kalimat langsung dengan kalimat Aku tahu, Sayangku, dan seterusnya. Ujaran dengan kalimat langsung seolah di mana si penutur sedang berdialog dengan lawan bicaranya (orang kedua) yang ia sebut dengan kata Sayangku. Begitu seterusnya, antara bait pertama dan ketiga penutur seperti berbicara dengan dirinya layaknya gumaman batin. Sementara bait kedua dan terakhir kembali kalimat langsung. Adapun dua jenis ryme (rima) yang terdapat dalam puisi BDO ini, setiap larik berbunyi a,a,a pada bait pertama, b,b,c pada bait kedua, lalu a,a,c pada bait ke tiga dan ditutup seperti bait pertama dengan a,a,a pada bait terakhir. Adalah gabungan antara rima lurus dan rima berkait kehadiran kedua jenis rima yaitu rima lurus yang hadir pada awal dan akhir bait, kemudian rima berkait pada bait kedua dan ketiga menunjukkan keunikan pada bentuk dalam puisi ini. Pada bait pertama dan terakhir seakan menggambarkan ombak, di mana air menghempas lurus ke pantai dan kembali menarik lurus ke laut. Sedangkan rima berkait b b c dan a a c seolah gulungan air yang membuih saling bertindih kemudian terhampar di tepi pantai.

ANALISIS ASPEK SEMANTIS
Bila kita melihat puisi BDO ini kita akan menemukan beberapa gambaran tentang laut yang hubungannya dengan manusia. Makna apakah yang tersirat di balik hubungan ini? Untuk menjawab pertanyaan ini alangkah baiknya terlebih dahulu dibahas isotopi-isotopi yang terdapat dalam puisi BDO ini. Yang dimaksud dengan isotopi di sini adalah wilayah makna yang terbuka yang terdapat di sepanjang wacana. Isotopi adalah suatu bagian dalam pemahaman yang memungkinkan pesan apapun untuk dipahami sebagai suatu perlambangan yang utuh. Karena itu, dalam isotopilah makna mencapai keutuhannya. Adapun dalam sajak BDO ini dapat di temukan beberapa isotopi yang diharapkan dapat mendukung perolehan makna yang diharapkan. Adapun isotopi itu adalah; isotopi alam, manusia, perasaan, sifat, perbuatan, waktu, tempat, dan penghubung.

Isotopi alam
Ombak Aromanya
Laut Pudar
Badai

Isitopi manusia
Berkata-kataTahu
Aku(3)Cinta(2)
Belajar(2)Kegetiran
MenyimpanIzinkan

Isotopi perasaan
Cinta(2x)
Kegetiran
Kesetiaan
Dusta
setia

Isotopi perbuatan
Berkata-kata Kesetiaan Setia
Belajar(2x) Izinkan
Cinta Terpendam
Dihempas Punyai
Terungkap Dusta
Isotopi waktu
Selalu

Isotopi tempat
Di dalamnya(2x)
Atas
Ada
Bagian
Di

Isotopi penghubung
Dengan
Tapi
Yang
Dan(2x)
Di(3x)
Jika

Di dalam analisis ini terdapat delapan kelompok isotopi yang mendukung delapan motif. Yang dimaksud dengan motif adalah unsur yang terus menerus diulang dan beberapa motif dapat mendukung kehadiran tema. (Okke. 2002: 124) Jika kita melihat kelompok motif tersebut di atas, dapat dilihat isotopi yang menonjol adalah isotopi perbuatan yang disususul dengan isotopi manusia dan alam. Menonjolnya isotopi perbuatan hal ini menunjukkan motif utama pada puisi ini adalah aktifitas pada beberapa sisi terutama mengenai kesetiaan manusia hendaklah mencontoh pada ombak, jika kita melihat isotopi selanjutnya yaitu manusia dan alam. Dengan demikian perbuatan mencontoh alam (dalam hal ini ombak di laut) adalah yang harus dilakukan oleh manusia dalam puisi ini. Artinya ombak dijelaskan sebagai metafora kehidupan. Kata belajar yang disebut sebanyak tiga kali kemudian kata setia dan kesetiaan, seakan memetafor pada ombak yang selalu setia pada laut meskipun dia pergi dihempas badai dia akan tetap kembali surut ke dalam laut tak pergi kemanapun.
Selanjutnya, kehadiran isotopi perasaan pada kosa kata cinta dan kegetiran, kemudian disusul kata kesetiaan dan dusta merupakan paradoks sifat dan perasaan manusia yang terkadang hadir dengan hampir tak dapat dibedakan rasanya. Meskipun demikian, seperti halnya ombak meskipun hanya buih yang mungkin telah tercampur dengan kotoran laut, dia tetap kapasitasnya menjadi bagian dari laut. Seperti halnya pasangan kata paradoks dalam puisi ini tidak dapat dielakkan bagi penutur sebagai bagian yang memang sudah ada dalam kehidupan umat manusia. Bahkan hal tersebut menjadi warna kontras yang justeru memperindah kehidupan ini.
Begitu juga pada kosa kata bunga yang hadir dalam isotopi alam tak hilang aromanya meskipun di hempas badai, seolah memaknai kata bunga sebagai metafor dari perasaan cinta. Tak hilang aromanya meskipun dihempas badai dimaknai sebagai cinta yang hadir dengan kekuatan rasanya (jika bunga aromanya) akan selalu senantiasa memegang kekuatannya tersebut meskipun berbagai cobaan (dalam hal ini digambarkan badai yang menghempas) yang menerpa cinta. Kemudian puisi ini diakhiri dengan kalimat izinkan aku belajar setia, menjadi sebuah permintaan sang tokoh yang bersikukuh pada kekuatan hatinya untuk selalu menjaga dan setia pada cintanya meskipun diterpa berbagai cobaan.

Adapun isotopi waktu yang pada puisi ini hanya memiliki satu kata yaitu selalu pada kalimat dengan ombak laut selalu berkata-kata memiliki makna durasi yang tidak pernah terputus bahwa laut tanpa ada ombak sebagai bagian dari dirinya, maka laut menjadi sama halnya dengan danau, rawa atau kolam. Kata ombak yang selalu digunakan laut untuk berkata-kata, pada bahasan ini laut sebagai personifikasi bagi manusia yang memiliki hati, pikiran dan lidah sebagai alat untuk merasa, memikirkan, dan mengkomunikasikan rasa dan pikirannya dalam kata-kata melalui lidahnya. Sebagian isi laut yang dibawa melalui ombak dan diperlihatkan di tepi pantai seakan menjadi personifikasi manusia untuk mengungkapkan sebagian yang perlu diungkapkan dan menyimpannya sebagian sebagai rahasia.
Kehadiran isotopi tempat dan penghubung berfungsi sebagai penguat dari kalimat-kalimat yang hadir dalam puisi ini. Kata di dalamnya, atas, ada dan bagian dalam kalimat-kalimat yang hadir pada puisi ini menunjukkan penegasan dari lokasi kehadiran perasaan maupun benda yang ditulis dalam puisi ini. Kalimat di dalam cinta, misalnya. Menegasakan tentang sesuatu yang berkaitan dengan cinta yang hadir dan benar-benar menyatu kehadirannya dalam perasaan cinta itu. Lalu kata atas, ada dan bagian hal yang menunjukkan unsur-unsur yang hadir pada setiap objeknya.

Begitu juga dengan kosa kata yang hadir dalam isotopi penghubung diantaranya dengan, tapi, yang, dan, di dan jika adalah unsur-unsur yang digunakan untuk memperjelas bagian-bagian kata yang digunakan dalam puisi BDO ini agar dapat dipahami dan komunikatif. Dukungan kata-kata penghubung juga memperjelas situasi dan keadaan kata pada kalimat. Seperti pada kalimat yang dihadirkan di bait ke tiga Di dalam cinta ada kesetiaan dan dusta, kedua penghubung di dan dan menjadi penting kehadirannya sebagai penegas dari kalimat yang ada. Kalimat di dalam cinta menegaskan isi yang terkandung dalam perasaan cinta. Sedangkan kata kesetiaan dan dusta, penghubung dan hadir sebagai pemisah dari dua kosa kata yang bermakna paradoks tersebut, namun dalam eksistensinya tetap menjadi bagian dari cinta. Karena penghubung dan membawa kehadiran dua perasaan yang paradoks tadi dalam satu waktu dan tempat.
KESIMPULAN

Akhirnya, berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulakan bahwa ombak adalah metafor dari kehidupan yang dijalani manusia. Hal tersebut dapat disebut sebagai tema pertama. Kemudian telah dijelaskan pula aktifitas alam dalam hal ini ombak di laut, menyiratkan aktifitas tokoh yang ingin menirunya dan menjadikan ombak tersebut sebagai simbol kesetiaan, rahasia dan bahkan kegetiran. Adapun isotopi perbuatan yang hadir dominan dalam karya ini menunjukkan bahwa aktifitas alam menjadi sama halnya dengan aktifitas manusia. Hal ini seakan menyiratkan bahwa segala mahluk hidup yang ada di dunia ini termasuk manusia juga memiliki aktifitas yang boleh dikatakan sama yaitu dengan menggunakan perasaan, akal (insting pada hewan) dan juga kegiatan yang sesuai dengan caranya masing-masing. Aktifitas alam juga dapat dijadikan cerminan bagi kehidupan manusia, di mana mereka dengan kepasrahannya tunduk pada aturan dan takdir yang telah dituliskan pada alam.
















LAMPIRAN
Puisi karya Sitok Srengenge

BELAJAR DARI OMBAK
Dengan ombak laut selalu berkata-kata
Tapi tak terungkap yang terpendam di dalamnya
__ biarlah aku belajar menyimpan rahasia
Aku tahu, Sayangku
dua hal yang kau punya atas diriku:
cinta dan kegetiran
Di dalam cinta
ada kesetiaan dan dusta
keduanya menjadi bagian kehidupan
Sayangku, jika ada bunga
dihempas badai tak pudar aromanya
___ izinkan aku belajar setia Selengkapnya...

karya sastra

Melalui karya sastra, kita bakal melintasi panorama sejarah secara kritis. Bahkan, lantaran kecakapan sang pujangga meruwat fakta sejarah, sastra mampu menyuguhkan sejarah yang menyentil emosi serta menggugah kesadaran penikmatnya akan keunikan pojok sejarah –meminjam istilah Emha Ainun Najib (Cak Nun)– yang kadang tidak kita insafi.Misalnya, puisi karya pujangga Ronggowarsita (1802-1874) yang berjudul Serat Kalatida. Puisi tersebut mengisahkan masa komersialisasi tanah-tanah di Keraton Surakarta dan Mangkunegaran, yang anehnya dilakukan oleh kerabat keraton sendiri. Selain itu,Ronggowarsita dalam Serat Kalatida juga mengajukan protes sosial terhadap masuknya kapitalisme yang menyergap kraton Kejawen (Surakarta, Mangkunegaran dan Yogyakarta).Pada era kolonial Belanda,kita dibuat takjub akan kritik sosial sekaligus politik yang dibawa novel Max Havelaar karya Multatuli (1960).Novel ini mengisahkan bagaimana penderitaan yang dialami rakyat Indonesia, lantaran kebijakan tanam-paksa yang dikeluarkan. Dalam novel tersebut, rakyat kita digambarkan hidup enggan mati tak mau. Kemiskinan terjadi di manamana.Akibatnya, timbul protes di kalangan pribumi maupun dari pegawai Belanda sendiri menuntut upaya balas budi (politik etis). Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa k a r y a Pramudya Ananta Toer, merupakan sastra sejarah yang sangat lengkap.Dalam novel tersebut, Pram berhasil menyuguhkan kurun sejarah, hubungan antarmanusianya, perubahan-perubahan sosial pada peralihan abad 20.Demikian halnya novel-novel karya Abdoel Moeis, Surapati dan Robert anak Surapati, atau Tjoet Nja Din –buku yang diterjemahkannya dari bahasa Belanda karangan M.H. Szikely-Lolufs.Meminjam istilah Henry James (1951), cukuplah bagi sejarah dalam bentuk sastra bila berhasil menyuguhkan hal-hal sejarah dalam bentuk gambaran yang koherensi. Selain itu, ada beberapa keuntungan bagi sastrawan dalam merekonstruksikan peristiwa sejarah melalui karya sastra, di antaranya: pertama, peristiwa sejarah dapat menjadi bahan baku tanpa perlu pertanggungjawaban terlebih dahulu.Kedua,peristiwanya,situasi,kejadian, cukup diambil dari khazanah accepted history-nya bagi hal-hal masa lampau, atau dari common sense bagi peristiwa kontemporer. Prosedur kritik, interpretasi dan sintesis tidak diperlukan sastra sebagaimana sejarawan. Ketiga, jika tulisan sejarah keterbatasannya terletak pada objeknya yang mengaktual di masa lampau dan menutup diri di balik waktu.Sebaliknya dalam sastra, objek justru terletak dalam jangkauan waktu, praktis tanpa pembatasan-pembatasan intelektual dan material. Pelaku dan kejadian dalam sastra bisa saja semuanya imajiner, sementara penulis hanya mempertanggungjawabkan pekerjaan cerita. Pertanggungjawaban kebebasan pengarang sastra sejarah semata-mata hanya terletak pada kejujurannya.Meski sastra sejarah tetap sebagai sebuah karya imajiner, tidak lantas kita meragukan kadar kebenaran atau validitas sejarahnya. Untuk mengukur kadar validitas sejarah sebuah karya sastra, menurut Kuntowijoyo ada beberapa unsur yang mesti dimiliki sebuah karya sastra, di antaranya: pertama, unsur historical authenticy (keaslian sejarah).Unsur ini merupakan kualitas dari kehidupan batin, moralitas, heroisme, kemampuan untuk berkorban, keteguhan hati,dan sebagainya,atau yang khas dari suatu zaman dalam sebuah karya sastra. Kedua, unsur historical faithfulness (kesetiaansejarah). Unsur ini merupakan keharusan-keharusan sejarah yang didasarkan pada basis sosial ekonomi rakyat yang sesungguhnya.Misalnya kisah tragedi Roro Mendut.Kisah tersebut menggambarkan tragedi akibat “keharusan sejarah” dalam sistem birokrasi patrimonial Mataram, sistem alokasi kekuasaan d a n perang tradisional. Dan ketiga, unsur local colour atau diskripsi yang setia tentang keadaan-keadaan fisik,tata cara, peralatan dan sebagainya yang membantu memudahkan penghayatan sejarah.
Meski sejarawan J Huizinga (1959) sempat berkomentar miring bahwa sastra sejarah tetap tidak mampu menggantikan tulisan sejarah, tetapi setidaknya nilainilai kebenaran yang diusung karya sastra tetap merupakan keunggulan tersendiri yang independen, tanpa bakalan terpengaruh pada hegemoni penguasa.Sudah saatnya ada langkah kreatif dari para sejarawan dan sastrawan untuk berkolaborasi, dan saling bahu membahu dalam menyuguhkan sejarah yang sejati. Melalui sejarah yang autentik, generasi muda bisa belajar guna menata peradaban dan bangsa ini menjadi jauh lebih baik.(*)Sebelumnya penulis ingin mengutarakan sedikit tentang sastra sejarah, sastra sejarah mengandung dua unsur pemaknaan yang pertama dalam sastra mengandung sebuah karya teks tentang imajinasi dari seorang penulis yang di tuangkan dalam sebuah karya dan sebuah daya khayal dari seorang penulis yang mana sebuah karya akan menghasilkan karya yang berbeda pula jika karya tersebut di tulis dengan orang yang berbeda, karena setiap orang mempunyai imajinasi dan daya khayal yang juga berbeda.Yang kedua adalah mengandung nilai sejarah, yang mana sejarah adalah kejadian di masa lampau dan di masa sebelumnya, atau sebuah tragedi dan kejadian yang biasanya di amini oleh masyarakat.Pramoedya Ananta Toer juga bisa dicatat sebagai sastrawan yang mampu melampirkan teks-teks sejarah ke dalam teks-teks sastra. Anak Semua Bangsa dan Bumi Manusia adalah contoh penting di mana bahasa mampu berfungsi dalam mendefinisikan kehidupan dirinya dalam dua dunia; sastra dan sejarah.
Ternyata jawaban untuk konteks sastra sejarah terletak pada kemampuan mengelola bahasa dan pikiran yang selalu berdiri dalam dua petak yang berbeda. Fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Pada titik inilah sebagian sastrawan Indonesia yang menulis fiksi yang bersandar pada realitas sejarah tak cukup cermat mengawinkan kedua faktor penting itu. Selengkapnya...

deskripsi

1. Pengertian deskripsi
Deskripsi adalah Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/ keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Contoh deskripsi berisi fakta:
Hampir semua pelosok Mentawai indah. Di empat kecamatan masih terdapat hutan yang masih perawan. Hutan ini menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Hutan Mentawai juga menyimpan anggrek aneka jenis dan fauna yang hanya terdapat di Mentawai. Siamang kerdil, lutung Mentawai dan beruk Simakobu adalah contoh primata yang menarik untuk bahan penelitian dan objek wisata.

Contoh deskripsi berupa fiksi:
Salju tipis melapis rumput, putih berkilau diseling warna jingga; bayang matahari senja yang memantul. Angin awal musim dingin bertiup menggigilkan, mempermainkan daun-daun sisa musim gugur dan menderaikan bulu-bulu burung berwarna kuning kecoklatan yang sedang meloncat-loncat dari satu ranting ke ranting yang lain.

1.2 Langkah menyusun deskripsi:

1.Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
2.Tentukan tujuan
3.Tentukan aspek-aspek yang akan dideskripsikan dengan melakukan pengamatan
4.Susunlah aspek-aspek tersebut ke dalam urutan yang baik, apakah urutan lokasi, urutan waktu, atau urutan menurut kepentingan
5.Kembangkan kerangka menjadi deskripsi.
Mereka perlu memiliki ketrampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku (berbagi bacaan). Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,
1. Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu.
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur). Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku. Pembaca bisa tahu dan secara tak sadar akan menggumam pelan “Oooo buku ini begini…. begitu” setelah membaca karya resensi.
3. Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya.
4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis.
5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku asalkan mereka mau. Diantaranya;
A. Tahap Persiapan
1. Memilih jenis buku. Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita.
2. Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya. Sehingga tidak mengundang rasa penasaran.
3. Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;
Judul Karya Resensi
Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :
B. Tahap Pengerjaan
1. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku.
2. Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;• Informasi(anatomi) awal buku (seperti format diatas).
• Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”.
• Membuat ulasan singkat buku. Ringkasan garis besar isi buku.
• Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
• Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuat ringkasan. Berikut ini beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur.
1. Membaca Naskah Asli
Bacalah naskah asli sekali atau dua kali, kalau perlu berulang kali agar Anda mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh. Penulis ringkasan juga perlu mengetahui maksud dan sudut pandangan penulis naskah asli. Untuk mencapainya, judul dan daftar isi tulisan (kalau ada) dapat dijadikan pegangan karena perincian daftar isi memunyai pertalian dengan judul dan alinea-alinea dalam tulisan menunjang pokok-pokok yang tercantum dalam daftar isi.
1. Mencatat Gagasan Utama
Jika sudah menangkap maksud, kesan umum, dan sudut pandangan pengarang asli, silakan memperdalam dan mengonkritkan semua hal itu. Bacalah kembali karangan itu bagian demi bagian, alinea demi alinea sambil mencatat semua gagasan yang penting dalam bagian atau alinea itu. Pokok-pokok yang telah dicatat dipakai untuk menyusun sebuah ringkasan. Langkah kedua ini juga menggunakan judul dan daftar isi sebagai pegangan. Yang menjadi sasaran pencatatan adalah judul-judul bab, judul anak bab, dan alinea, kalau perlu gagasan bawahan alinea yang betul-betul esensial untuk memperjelas gagasan utama tadi juga dicatat.
2. Mengadakan Reproduksi
Pakailah kesan umum dan hasil pencatatan untuk membuat ringkasan. Urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya. Bila gagasan yang telah dicatat ada yang masih kabur, silakan melihat kembali teks aslinya, tapi jangan melihat teks asli lagi untuk hal lainnya agar Anda tidak tergoda untuk menggunakan kalimat dari penulis asli. Karena kalimat penulis asli hanya boleh digunakan bila kalimat itu dianggap penting karena merupakan kaidah, kesimpulan, atau perumusan yang padat.
3. Ketentuan Tambahan
Setelah melakukan langkah ketiga, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a. Susunlah ringkasan dalam kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b. Ringkaskanlah kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Jika rangkaian gagasan panjang, gantilah dengan suatu gagasan sentral saja.
c. Besarnya ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan dalam ringkasan. Ilustrasi, contoh, deskripsi, dsb. dapat dihilangkan, kecuali yang dianggap penting.
d. Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk menjelaskan gagasan umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau rangkaian kata sifat yang terdapat dalam naskah.
e. Anda harus mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah. Tapi yang sudah dicatat dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat ringkasan. Selengkapnya...