;
headline photo
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

TERAPI GANGGUAN KECEMASAN

Rabu, 21 April 2010


Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan mereka. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan :
1.Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Selengkapnya...

MEDIA TRADISIONAL

Selasa, 20 April 2010

A. Pengertian Media Tradisional
Dongeng adalah salah satu media tradisional yang pernah popular di Indonesia. Pada masa silam, kesempatan untuk mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena merupakan bagian dari kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng merupakan cara berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk menanamkan nilai-nilai sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Selengkapnya...

10 Negara dengan Jumlah Perokok Terbesar di Dunia

Kamis, 01 April 2010

Daftar 10 Negara Perokok Terbesar di Dunia
1. China = 390 juta perokok atau 29% per penduduk
2. India = 144 juta perokok atau 12.5% per penduduk
3. Indonesia = 65 juta perokok atau 28 % per penduduk (~225 miliar batang per tahun)
4. Rusia = 61 juta perokok atau 43% per penduduk
5. Amerika Serikat =58 juta perokok atau 19 % per penduduk
6. Jepang = 49 juta perokok atau 38% per penduduk
Selengkapnya...

postingan pertama

Minggu, 21 Februari 2010

mulai,star,cemon,ayo!! ini sih postingan pertama kalinya waktu belajar buat blog..hexx..hex..sekedar ngetest bisa ato g..ehh malah kesimpan di draft..nih baru nongol sebagai postingan terahir saat ini..padahal ini postingan pertama..klo ada yang bilang ini postingan tidak berguna..ga apa apa..saya setuju ajah..hahaxx.hax..hax..sekian dulu dari saya..bayak maaf..dan terima kasih atas perhatian anda membacanya..membaca SPAM..huehuehue..epss.sory nih lagi pucing... :D


Selengkapnya...

Pertanyaan Umum dalam Wawancara

Kapanpun, suatu saat tentu kita akan dihadapkan dengan suatu pekerjan, mungkin mudah tapi ada juga yang sasah, bahkan ada yang diseleksi dengan ketat untuk mendapatkan seuatu jabatan. dan salah satu bentuk penyeleksian dengan mnegadakan wawancara terhadap pelamar. ini lah berapa contoh pertanyan yang biasa dan mungkin akan ditanyakan  kepada pelamar. anda wajib mn\engetahuinya.

Di bawah ini diberikan daftar pertanyaan umum yang dapat menggali 12 aspek seperti berikut ini.
1. Motivasi

Pertanyaan yang dapat menggali aspek motivasi antara lain :
1. Mengapa anda memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini ?
Selengkapnya...

Dampak Defisiensi Iodium pada ibu hamil

Jumat, 19 Februari 2010

dari berbagai sumber

I. Pendahuluan
Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Di Indonesia AKI dan AKB tinggi yaitu pada tahun 1998 450 per seratus ribu kelahiran hidup, dan Angka Kematian Bayi tahun 1999 adalah 44 per seribu kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2000).
Berbagai program kesehatan dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB. Salah satu program adalah perbaikan gizi pada ibu hamil sehingga akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Masalah gizi kurang yang belum dapat ditanggulangi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (PJPT I) hingga kini adalah masalah Anemia Gizi Besi dan
Selengkapnya...

Organisasi Perusahaan Pers

Rabu, 17 Februari 2010

Organisasi perusahaan pers memperoleh mandat untuk mendukung, memelihara, dan menjaga kemerdekaan pers yang profesional sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 C dan F serta Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Untuk melaksanakan mandat tersebut perlu dikembangkan organisasi perusahaan pers yang memiliki integritas dan kredibilitas serta anggota yang profesional.Atas dasar itu dan mengingat bahwa kemerdekaan pers merupakan salah
Selengkapnya...

METHOD OF THE RESEARCH

.     Type of The Research
This research is a classroom action research. Mills (2006:6) explains action research is a systemic inquiry conducted by teacher researcher, principal, school counselor, or other stakeholder in the teaching/learning environment. To gather information about the ways that their particular school operate how they teach, and how well the student learn. It will attempt to improve the quality of education, particularly in improving student’s writing skill by using comics at the second year of SMPN 3 Lunang Silaut In Pesisir Selatan Regency.
Selengkapnya...

Manusia Dalam Multi Dimensi



Menurut Fichte manusia secara prinsipil adalah makhluk yang bersifat moral yang di dalamnya mengandung suatu usaha. Di sinilah manusia perlu menerima dunia di luar dirinya. Sikap seperti ini dapat menjadikan manusia menyadari dirinya sendiri dan usaha untuk membatasi dirinya sendiri dari masyarakat luas.
Selengkapnya...

Agatha Christie

Agatha Christie (1890-1976) was born Agatha May Clarissa Miller in Devon, England in 1890, the youngest of three children in a conservative, well-to-do family.Agatha Christie Taught at home by a governess and tutors, as a child Agatha Christie never attended school. She became adept at creating games to keep herself occupied at a very young age. A shy child, unable to adequately express her feelings, she first turned to music as a means of
Selengkapnya...

Teaching Grammar

Sabtu, 19 Desember 2009

Strategies for Learning Grammar
Language teachers and language learners are often frustrated by the disconnect between knowing the rules of grammar and being able to apply those rules automatically in listening, speaking, reading, and writing. This disconnect reflects a separation between declarative knowledge and procedural knowledge.
• Declarative knowledge is knowledge about something. Declarative knowledge enables a student to describe a rule of grammar and apply it in pattern practice drills.
• Procedural knowledge is knowledge of how to do something. Procedural knowledge enables a student to apply a rule of grammar in communication.
For example, declarative knowledge is what you have when you read and understand the instructions for programming the DVD player. Procedural knowledge is what you demonstrate when you program the DVD player.
Procedural knowledge does not translate automatically into declarative knowledge; many native speakers can use their language clearly and correctly without being able to state the rules of its grammar. Likewise, declarative knowledge does not translate automatically into procedural knowledge; students may be able to state a grammar rule, but consistently fail to apply the rule when speaking or writing.
To address the declarative knowledge/procedural knowledge dichotomy, teachers and students can apply several strategies.
1. Relate knowledge needs to learning goals.
Identify the relationship of declarative knowledge and procedural knowledge to student goals for learning the language. Students who plan to use the language exclusively for reading journal articles need to focus more on the declarative knowledge of grammar and discourse structures that will help them understand those texts. Students who plan to live in-country need to focus more on the procedural knowledge that will help them manage day to day oral and written interactions.
2. Apply higher order thinking skills.
Recognize that development of declarative knowledge can accelerate development of procedural knowledge. Teaching students how the language works and giving them opportunities to compare it with other languages they know allows them to draw on critical thinking and analytical skills. These processes can support the development of the innate understanding that characterizes procedural knowledge.
3. Provide plentiful, appropriate language input.
Understand that students develop both procedural and declarative knowledge on the basis of the input they receive. This input includes both finely tuned input that requires students to pay attention to the relationships among form, meaning, and use for a specific grammar rule, and roughly tuned input that allows students to encounter the grammar rule in a variety of contexts. (For more on input, see Teaching Goals and Methods.)
4. Use predicting skills.
Discourse analyst Douglas Biber has demonstrated that different communication types can be characterized by the clusters of linguistic features that are common to those types. Verb tense and aspect, sentence length and structure, and larger discourse patterns all may contribute to the distinctive profile of a given communication type. For example, a history textbook and a newspaper article in English both use past tense verbs almost exclusively. However, the newspaper article will use short sentences and a discourse pattern that alternates between subjects or perspectives. The history textbook will use complex sentences and will follow a timeline in its discourse structure. Awareness of these features allows students to anticipate the forms and structures they will encounter in a given communication task.
5. Limit expectations for drills.
• Mechanical drills in which students substitute pronouns for nouns or alternate the person, number, or tense of verbs can help students memorize irregular forms and challenging structures. However, students do not develop the ability to use grammar correctly in oral and written interactions by doing mechanical drills, because these drills separate form from meaning and use. The content of the prompt and the response is set in advance; the student only has to supply the correct grammatical form, and can do that without really needing to understand or communicate anything. The main lesson that students learn from doing these drills is: Grammar is boring.
• Communicative drills encourage students to connect form, meaning, and use because multiple correct responses are possible. In communicative drills, students respond to a prompt using the grammar point under consideration, but providing their own content. For example, to practice questions and answers in the past tense in English, teacher and students can ask and answer questions about activities the previous evening. The drill is communicative because none of the content is set in advance:
Teacher: Did you go to the library last night?
Student 1: No, I didn’t. I went to the movies. (to Student 2): Did you read chapter 3?
Student 2: Yes, I read chapter 3, but I didn’t understand it. (to Student 3): Did you understand chapter 3?
Student 3: I didn’t read chapter 3. I went to the movies with Student 1.
Goals and Techniques for Teaching Grammar
The goal of grammar instruction is to enable students to carry out their communication purposes. This goal has three implications:
• Students need overt instruction that connects grammar points with larger communication contexts.
• Students do not need to master every aspect of each grammar point, only those that are relevant to the immediate communication task.
• Error correction is not always the instructor's first responsibility.
Overt Grammar Instruction
Adult students appreciate and benefit from direct instruction that allows them to apply critical thinking skills to language learning. Instructors can take advantage of this by providing explanations that give students a descriptive understanding (declarative knowledge) of each point of grammar.
• Teach the grammar point in the target language or the students' first language or both. The goal is to facilitate understanding.
• Limit the time you devote to grammar explanations to 10 minutes, especially for lower level students whose ability to sustain attention can be limited.
• Present grammar points in written and oral ways to address the needs of students with different learning styles.
An important part of grammar instruction is providing examples. Teachers need to plan their examples carefully around two basic principles:
• Be sure the examples are accurate and appropriate. They must present the language appropriately, be culturally appropriate for the setting in which they are used, and be to the point of the lesson.
• Use the examples as teaching tools. Focus examples on a particular theme or topic so that students have more contact with specific information and vocabulary.
Relevance of Grammar Instruction
In the communicative competence model, the purpose of learning grammar is to learn the language of which the grammar is a part. Instructors therefore teach grammar forms and structures in relation to meaning and use for the specific communication tasks that students need to complete.
Compare the traditional model and the communicative competence model for teaching the English past tense:
Traditional: grammar for grammar's sake
• Teach the regular -ed form with its two pronunciation variants
• Teach the doubling rule for verbs that end in d (for example, wed-wedded)
• Hand out a list of irregular verbs that students must memorize
• Do pattern practice drills for -ed
• Do substitution drills for irregular verbs
Communicative competence: grammar for communication's sake
• Distribute two short narratives about recent experiences or events, each one to half of the class
• Teach the regular -ed form, using verbs that occur in the texts as examples. Teach the pronunciation and doubling rules if those forms occur in the texts.
• Teach the irregular verbs that occur in the texts.
• Students read the narratives, ask questions about points they don't understand.
• Students work in pairs in which one member has read Story A and the other Story B. Students interview one another; using the information from the interview, they then write up or orally repeat the story they have not read.
Error Correction
At all proficiency levels, learners produce language that is not exactly the language used by native speakers. Some of the differences are grammatical, while others involve vocabulary selection and mistakes in the selection of language appropriate for different contexts.
In responding to student communication, teachers need to be careful not to focus on error correction to the detriment of communication and confidence building. Teachers need to let students know when they are making errors so that they can work on improving. Teachers also need to build students' confidence in their ability to use the language by focusing on the content of their communication rather than the grammatical form.
Teachers can use error correction to support language acquisition, and avoid using it in ways that undermine students' desire to communicate in the language, by taking cues from context.
• When students are doing structured output activities that focus on development of new language skills, use error correction to guide them.
Example:
Student (in class): I buy a new car yesterday.
Teacher: You bought a new car yesterday. Remember, the past tense of buy is bought.
• When students are engaged in communicative activities, correct errors only if they interfere with comprehensibility. Respond using correct forms, but without stressing them.
Example:
Student (greeting teacher) : I buy a new car yesterday!
Teacher: You bought a new car? That's exciting! What kind?
Developing Grammar Activities
Many courses and textbooks, especially those designed for lower proficiency levels, use a specified sequence of grammatical topics as their organizing principle. When this is the case, classroom activities need to reflect the grammar point that is being introduced or reviewed. By contrast, when a course curriculum follows a topic sequence, grammar points can be addressed as they come up.
In both cases, instructors can use the Larsen-Freeman pie chart as a guide for developing activities.
For curricula that introduce grammatical forms in a specified sequence, instructors need to develop activities that relate form to meaning and use.
• Describe the grammar point, including form, meaning, and use, and give examples (structured input)
• Ask students to practice the grammar point in communicative drills (structured output)
• Have students do a communicative task that provides opportunities to use the grammar point (communicative output)
For curricula that follow a sequence of topics, instructors need to develop activities that relate the topical discourse (use) to meaning and form.
• Provide oral or written input (audiotape, reading selection) that addresses the topic (structured input)
• Review the point of grammar, using examples from the material (structured input)
• Ask students to practice the grammar point in communicative drills that focus on the topic (structured output)
• Have students do a communicative task on the topic (communicative output)
See Teaching Goals and Methods for definitions of input and output. See Planning a Lesson for an example of a lesson that incorporates a grammar point into a larger communication task.
When instructors have the opportunity to develop part or all of the course curriculum, they can develop a series of contexts based on the real world tasks that students will need to perform using the language, and then teach grammar and vocabulary in relation to those contexts.
For example, students who plan to travel will need to understand public address announcements in airports and train stations. Instructors can use audiotaped simulations to provide input; teach the grammatical forms that typically occur in such announcements; and then have students practice by asking and answering questions about what was announced.
Using Textbook Grammar Activities
Textbooks usually provide one or more of the following three types of grammar exercises.
• Mechanical drills: Each prompt has only one correct response, and students can complete the exercise without attending to meaning. For example:
George waited for the bus this morning. He will wait for the bus tomorrow morning, too.
• Meaningful drills: Each prompt has only one correct response, and students must attend to meaning to complete the exercise. For example:
Where are George’s papers? They are in his notebook.
(Students must understand the meaning of the question in order to answer, but only one correct answer is possible because they all know where George’s papers are.)
• Communicative drills, described in Strategies for Learning Grammar
To use textbook grammar exercises effectively, instructors need to recognize which type they are, devote the appropriate amount of time to them, and supplement them as needed.
Recognizing Types
Before the teaching term begins, inventory the textbook to see which type(s) of drills it provides. Decide which you will use in class, which you will assign as homework, and which you will skip.
Assigning Time
When deciding which textbook drills to use and how much time to allot to them, keep their relative value in mind.
• Mechanical drills are the least useful because they bear little resemblance to real communication. They do not require students to learn anything; they only require parroting of a pattern or rule.
• Meaningful drills can help students develop understanding of the workings of rules of grammar because they require students to make form-meaning correlations. Their resemblance to real communication is limited by the fact that they have only one correct answer.
• Communicative drills require students to be aware of the relationships among form, meaning, and use. In communicative drills, students test and develop their ability to use language to convey ideas and information.
Supplementing
If the textbook provides few or no meaningful and communicative drills, instructors may want to create some to substitute for mechanical drills. See Developing Grammar Activities for guidelines.
Assessing Grammar Proficiency
Authentic Assessment
Just as mechanical drills do not teach students the language, mechanical test questions do not assess their ability to use it in authentic ways. In order to provide authentic assessment of students’ grammar proficiency, an evaluation must reflect real-life uses of grammar in context. This means that the activity must have a purpose other than assessment and require students to demonstrate their level of grammar proficiency by completing some task.
To develop authentic assessment activities, begin with the types of tasks that students will actually need to do using the language. Assessment can then take the form of communicative drills and communicative activities like those used in the teaching process.
For example, the activity based on audiotapes of public address announcements (Developing Grammar Activities) can be converted into an assessment by having students respond orally or in writing to questions about a similar tape. In this type of assessment, the instructor uses a checklist or rubric to evaluate the student’s understanding and/or use of grammar in context. (See Assessing Learning for more on checklists and rubrics.)
Mechanical Tests
Mechanical tests do serve one purpose: They motivate students to memorize. They can therefore serve as prompts to encourage memorization of irregular forms and vocabulary items. Because they test only memory capacity, not language ability, they are best used as quizzes and given relatively little weight in evaluating student performance and progress. Selengkapnya...

karya sastra

Melalui karya sastra, kita bakal melintasi panorama sejarah secara kritis. Bahkan, lantaran kecakapan sang pujangga meruwat fakta sejarah, sastra mampu menyuguhkan sejarah yang menyentil emosi serta menggugah kesadaran penikmatnya akan keunikan pojok sejarah –meminjam istilah Emha Ainun Najib (Cak Nun)– yang kadang tidak kita insafi.Misalnya, puisi karya pujangga Ronggowarsita (1802-1874) yang berjudul Serat Kalatida. Puisi tersebut mengisahkan masa komersialisasi tanah-tanah di Keraton Surakarta dan Mangkunegaran, yang anehnya dilakukan oleh kerabat keraton sendiri. Selain itu,Ronggowarsita dalam Serat Kalatida juga mengajukan protes sosial terhadap masuknya kapitalisme yang menyergap kraton Kejawen (Surakarta, Mangkunegaran dan Yogyakarta).Pada era kolonial Belanda,kita dibuat takjub akan kritik sosial sekaligus politik yang dibawa novel Max Havelaar karya Multatuli (1960).Novel ini mengisahkan bagaimana penderitaan yang dialami rakyat Indonesia, lantaran kebijakan tanam-paksa yang dikeluarkan. Dalam novel tersebut, rakyat kita digambarkan hidup enggan mati tak mau. Kemiskinan terjadi di manamana.Akibatnya, timbul protes di kalangan pribumi maupun dari pegawai Belanda sendiri menuntut upaya balas budi (politik etis). Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa k a r y a Pramudya Ananta Toer, merupakan sastra sejarah yang sangat lengkap.Dalam novel tersebut, Pram berhasil menyuguhkan kurun sejarah, hubungan antarmanusianya, perubahan-perubahan sosial pada peralihan abad 20.Demikian halnya novel-novel karya Abdoel Moeis, Surapati dan Robert anak Surapati, atau Tjoet Nja Din –buku yang diterjemahkannya dari bahasa Belanda karangan M.H. Szikely-Lolufs.Meminjam istilah Henry James (1951), cukuplah bagi sejarah dalam bentuk sastra bila berhasil menyuguhkan hal-hal sejarah dalam bentuk gambaran yang koherensi. Selain itu, ada beberapa keuntungan bagi sastrawan dalam merekonstruksikan peristiwa sejarah melalui karya sastra, di antaranya: pertama, peristiwa sejarah dapat menjadi bahan baku tanpa perlu pertanggungjawaban terlebih dahulu.Kedua,peristiwanya,situasi,kejadian, cukup diambil dari khazanah accepted history-nya bagi hal-hal masa lampau, atau dari common sense bagi peristiwa kontemporer. Prosedur kritik, interpretasi dan sintesis tidak diperlukan sastra sebagaimana sejarawan. Ketiga, jika tulisan sejarah keterbatasannya terletak pada objeknya yang mengaktual di masa lampau dan menutup diri di balik waktu.Sebaliknya dalam sastra, objek justru terletak dalam jangkauan waktu, praktis tanpa pembatasan-pembatasan intelektual dan material. Pelaku dan kejadian dalam sastra bisa saja semuanya imajiner, sementara penulis hanya mempertanggungjawabkan pekerjaan cerita. Pertanggungjawaban kebebasan pengarang sastra sejarah semata-mata hanya terletak pada kejujurannya.Meski sastra sejarah tetap sebagai sebuah karya imajiner, tidak lantas kita meragukan kadar kebenaran atau validitas sejarahnya. Untuk mengukur kadar validitas sejarah sebuah karya sastra, menurut Kuntowijoyo ada beberapa unsur yang mesti dimiliki sebuah karya sastra, di antaranya: pertama, unsur historical authenticy (keaslian sejarah).Unsur ini merupakan kualitas dari kehidupan batin, moralitas, heroisme, kemampuan untuk berkorban, keteguhan hati,dan sebagainya,atau yang khas dari suatu zaman dalam sebuah karya sastra. Kedua, unsur historical faithfulness (kesetiaansejarah). Unsur ini merupakan keharusan-keharusan sejarah yang didasarkan pada basis sosial ekonomi rakyat yang sesungguhnya.Misalnya kisah tragedi Roro Mendut.Kisah tersebut menggambarkan tragedi akibat “keharusan sejarah” dalam sistem birokrasi patrimonial Mataram, sistem alokasi kekuasaan d a n perang tradisional. Dan ketiga, unsur local colour atau diskripsi yang setia tentang keadaan-keadaan fisik,tata cara, peralatan dan sebagainya yang membantu memudahkan penghayatan sejarah.
Meski sejarawan J Huizinga (1959) sempat berkomentar miring bahwa sastra sejarah tetap tidak mampu menggantikan tulisan sejarah, tetapi setidaknya nilainilai kebenaran yang diusung karya sastra tetap merupakan keunggulan tersendiri yang independen, tanpa bakalan terpengaruh pada hegemoni penguasa.Sudah saatnya ada langkah kreatif dari para sejarawan dan sastrawan untuk berkolaborasi, dan saling bahu membahu dalam menyuguhkan sejarah yang sejati. Melalui sejarah yang autentik, generasi muda bisa belajar guna menata peradaban dan bangsa ini menjadi jauh lebih baik.(*)Sebelumnya penulis ingin mengutarakan sedikit tentang sastra sejarah, sastra sejarah mengandung dua unsur pemaknaan yang pertama dalam sastra mengandung sebuah karya teks tentang imajinasi dari seorang penulis yang di tuangkan dalam sebuah karya dan sebuah daya khayal dari seorang penulis yang mana sebuah karya akan menghasilkan karya yang berbeda pula jika karya tersebut di tulis dengan orang yang berbeda, karena setiap orang mempunyai imajinasi dan daya khayal yang juga berbeda.Yang kedua adalah mengandung nilai sejarah, yang mana sejarah adalah kejadian di masa lampau dan di masa sebelumnya, atau sebuah tragedi dan kejadian yang biasanya di amini oleh masyarakat.Pramoedya Ananta Toer juga bisa dicatat sebagai sastrawan yang mampu melampirkan teks-teks sejarah ke dalam teks-teks sastra. Anak Semua Bangsa dan Bumi Manusia adalah contoh penting di mana bahasa mampu berfungsi dalam mendefinisikan kehidupan dirinya dalam dua dunia; sastra dan sejarah.
Ternyata jawaban untuk konteks sastra sejarah terletak pada kemampuan mengelola bahasa dan pikiran yang selalu berdiri dalam dua petak yang berbeda. Fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Pada titik inilah sebagian sastrawan Indonesia yang menulis fiksi yang bersandar pada realitas sejarah tak cukup cermat mengawinkan kedua faktor penting itu. Selengkapnya...

BIOTEKNOLOGI DAN KESEHATAN

Penerapan bioteknologi dalam bidang kesehatan meliputi
diagnosis, pengobatan dan pencegahan penyakit. Bioteknologi
baik dari segi manipulasi gen ataupun rekayasa, keduanya
dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan cara-cara diagno-
sis, pengobatan dan pencegahan penyakit. Untuk memperjelas
hubungan antara bioteknologi dan kesehatan ini, terlebih da-
hulu akan disinggung sedikit soal manipulasi gen dan rekayasa
genetik.
Prinsip BIOTEKNOLOGI DAN KESEHATAN
yang mendasari penggunaan rekayasa genetik adalah
bahwa satu atau sejumlah gen patogen dimasukkan ke dalam
vektor untuk kemudian dipindahkan ke dalam pembawa yang
cocok. Teknik pertama adalah memanipulasikan DNA, yaitu
DNA dari suatu organisme digabungkan kembali dengan DNA
dari organisme yang lain dalam sebuah tabung dan membentuk
DNA rekombinan. DNA rekombinan ini dapat ditambahkan
pada organisme yang hidup. Dengan jalan ini gen dari satu
bakteri dapat ditambahkan kepada bakteri lain untuk meng-
gabungkan. sifat-sifat yang berguna dari kedua bakteri itu.
Dengan cara yang sama juga gen dari tanaman atau gen dari
binatang dapat dipindahkan kepada suatu bakteri, dan akan
berkembang seperti gen bakteri. Karena perkembangbiakan
bakteri sangat cepat dan waktu pembiakan sangat pendek,
kira-kira dua puluh menit, berarti dapat dibiakkan dengan
mudah dalam laboratorium sehingga memungkinkan untuk
memperoleh sejumlah besar gen yang telah dipindahkan ke-
pada bakteri. Cara ini cukup potensial untuk memproduksi
vaksin besar-besaran.

PEMANFAATAN BIOLOGI DALAM BIDANG KEDOKTERAN
Sebagai ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kehidupan, manfaat Biologi dalam meningkatkan kesejahteraan manusia tidak perlu diragukan lagi. Berdasarkan ilmu murni Biologi, telah dikembangkan berbagai ilmu terapan (bioteknologi) yang telah memajukan dunia kedokteran, industri, pertanian, dan peternakan, serta perikanan. Seberapa besarkah pemanfaatan biologi untuk kesejahteraan manusia telah dilaksanakan? Untuk mengetahui hal tersebut marilah kita pelajari uraian selanjutnya berikut ini.
Dahulu banyak masalah penyakit yang tidak dipahami penyebab maupun cara pengobatannya, sehingga cara yang ditempuh untuk mencegah maupun dalam menyembuhkannya tidak tepat. Tetapi berkat perkembangan Biologi, khususnya dalam cabang ilmu: anatomi dan fisiologi manusia, mikrobiologi, virologi dan patologi, telah banyak membantu para dokter dalam memahami penyebab gangguan tersebut. Dengan demikian para dokter berhasil mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit yang sampai saat ini sering menjadi masalah yang menakutkan manusia.
Berikut ini adalah contoh-contoh sumbangan pengetahuan yang telah diberikan oleh Biologi beserta cabang-cabang ilmunya dalam dunia kesehatan dan atau kedokteran.
a. Para penderita penyakit yang mengalami kerusakan pada salah satu organ tubuhnya, kini telah mendapatkan jalan keluarnya yaitu melalui teknik transplantasi (pencangkokan) organ. Transplantasi organ yang sudah berhasil dilakukan oleh para dokter adalah pencangkokan ginjal, jantung, sumsum tulang belakang maupun hati.
b. Teknik fertilasi invitro telah dapat diaplikasikan tidak hanya pada hewan ternak, tetapi telah dapat dilakukan pada manusia. Teknik ini dapat membantu pasangan suami istri yang sulit mendapatkan keturunan karena suatu kelainan. Fertilasi ini tentunya berasal dari gamet pasangan yang bersangkutan. Teknik karakterisasi dan pemisahan gamet sperma yang membawa kromosom X dan Y (penentu jenis kelamin keturunan) juga telah berhasil dilakukan. Teknik ini memungkinkan para pasangan suami isteri mendapatkan keturunannya dengan jenis kelamin tertentu.
c. Mikrobiologi kedokteran telah berhasil mengidentifikasi beberapa jenis mikroba yang menyebabkan penyakit pada manusia maupun hewan. Dengan demikian, antibiotik untuk mikroba-mikroba tersebut dapat dibuat.

d. Virologi pun telah memberikan sumbangannya pada dunia kedokteran, dengan mendasari pengetahuan dalam usaha menciptakan vaksin-vaksin. Misalnya pada kasus yang baru saja terjadi yaitu mengenai Virus Flu Burung. Sebuah surat kabar memberitakan bahwa Virus Flu Burung atau disebut juga Virus Avian Influenza, yang hanya dapat diteruskan kepada manusia melalui kontak yang sangat dekat, telah dapat ditemukan vaksinnya oleh para pakar Imunologi dan Bioteknologi di Badan Kesehatan Dunia (WHO). Caranya adalah dengan menggabungkan gen Avian dengan gen flu pada manusia agar menjadi ‘aman’. Mereka mengambil satu gen virus flu burung kemudian menggantikan gennya tadi dengan gen flu manusia. Hasil dari kombinasi virus buatan ini kemudian dipersiapkan sebagai basis untuk pembuatan vaksinnya. (Sumber: Pikiran Rakyat 5 Februari 2004).
e. Para penderita obesitas (penyakit kegemukan) kini pun telah mendapatkan jalan keluar dalam mengatasi kelebihan berat badannya. Hal ini dijelaskan dalam suatu kutipan dari sebuah surat kabar bahwa; Para ahli fisiologi dan ilmu gizi dari Universitas Texas Southwestern Medical Centre, Dallas Amerika Serikat, telah berhasil mengubah sel-sel lemak biasa menjadi lemak yang bisa terbakar. Penelitian dilakukan melalui penyuntikan gen Leptin (suatu protein yang terkait dengan proses metabolisme) pada tikus percobaan. Hasil penyisipan gen membuktikan bahwa sel-sel yang biasanya menimbun lemak berubah menjadi sel-sel pembakar lemak. Akibatnya, tikus menjadi langsing dengan hilangnya 26% bobot tubuhnya selama dua pekan. (Sumber: Pikiran Rakyat 26 Februari 2004).
Demikianlah pemanfaatan Biologi dalam bidang kedokteran, yang pada dewasa ini sudah banyak kemajuan yang dicapai. Di samping itu, berkat penelitian yang terus menerus, bermunculan berbagai cabang ilmu kedokteran (spesialisasi) berikut teknik-tekniknya, yang pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kesehatan manusia. Masyarakat pun kini semakin mengetahui bagaimana cara hidup sehat, mengatur gizi, menghindari serta mencegah penyakit, yaitu dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, berolah raga secara teratur dan mengkonsumsi makanan bergizi dengan menu 4 sehat 5 sempurna dan pola gizi seimbang.
DampakBioteknologi
1.DampakNegatifBioteknologi
Bioteknologi, seprti juga lain, mengandung resiko akan dampak negatif. Timbulnya dampak yang merugikan terhadap keanekaragaman hayati disebabkan oleh potensi terjadinya aliran gen ketanaman sekarabat atau kerabat dekat. Di bidang kesehatan manusia terdapat kemungkinan produk gen asaing, seperti, gen cry dari bacillus thuringiensis maupun bacillus sphaeericus, dapat menimbulkan reaksi alergi pada tubuh mausia, perlu di cermati pula bahwa insersi ( penyisipan ) gen asibg ke genom inag dapat menimbulkan interaksi anatar gen asing dan inang produk bahan pertanian dan kimia yang menggunakan bioteknologi.
Dampak lain yang dapat ditimbulkan oleh bioteknologi adalah persaingan internasional dalam perdagangan dan pemasaran produk bioteknologi. Persaingan tersebut dapat menimbulkan ketidakadilan bagi negara berkembang karena belum memiliki teknologi yang maju, Kesenjangan teknologi yang sangat jauh tersebut disebabkan karena bioteknologi modern sangat mahal sehingga sulit dikembangkan oleh negara berkembang. Ketidakadilan, misalnya, sangat terasa dalam produk pertanian transgenik yang sangat merugikan bagi agraris berkembang. Hak paten yang dimiliki produsen organisme transgenik juga semakin menambah dominasi negara maju.

2.DampakPositifBioteknologi

Keanekaragaman hayati merupakan modal utama sumber gen untuk keperluan rekayasa genetik dalam perkembangan dan perkembangan industri bioteknologi. Baik donor maupun penerima (resipien) gen dapat terdiri atas virus, bakteri, jamur, lumut, tumbuhan, hewan, juga manusia. Pemilihan donor / resipien gen bergantung pada jenis produk yang dikehendaki dan nilai ekonomis suatu produk yang dapat dikembangkan menjadi komoditis bisnis. Oleh karena itu, kegiatan bioteknologi dengan menggunakan rekayasa genetik menjadi tidak terbatas dan membutuhkan suatu kajian sains baru yang mendasar dan sistematik yang berhubungan dengan kepentingan dan kebutuhan manusi ; Kegiatan tersebut disebut sebagai bioprespecting. Perdebatan tentang positif untuk mengatasi dampak negatif yang dapat ditimbulkan bioteknologi, antara lain pada tahun 1992 telah disepakati konvensi keanekaragaman Hayati, ( Convetion on Biological Diversity )yang mengikat secara hukum bagi negara-negara yang ikut mendatanginnya . Sebagai tindak lanjut penadatanganan kovensi tersebut, Indonesia telah meratifikasi Undang-Undang No. 5 Tahun 1994. perlu anda ketahui, Negara Amerika Serikat tidak ikut menadatangani konvensi tersebut. Di sepakati Pula Cartegena Protocol on Biosafety ( Protokol Cartegena tentang pengamanan hayati ). Protokol tersebut menyinggung tentang prosedur transpor produk bioteknologi antara negara untuk mencegah bahaya yang timbul akibat dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati. Ekosistem, dan kesehatan manusia. Pengertian klon bioteknologi modern adalah pengadaan sel jasad renik, sel (jaringan), molekul bibit tanaman melalui setek yang banyak dilakukan pada tanaman perenial, antara lain kopi, teh, karet, dan mangga. Perbanyakan bibit dengan teknik kultur jaringan, kultur organ, dan embiogenesis somatik dapat pula diterapkan pada jaringan hewan dan manusia. Tidak seperti pada tumbuhan, kultur pada hewan dan manusia tidak dapat dikembangkan menjadi individu baru. Selengkapnya...

Asal Nama Singapura

Ratusan tahun yang lalu hiduplah Sang Nila Utama, Raja Sriwijaya. Pada suatu hari, ditemani beberapa pengawal setianya, Raja pergi berlayar. Di perjalanan angin topan datang. Para pengawal mengusulkan agar Raja membatalkan niatnya.

“Paduka, sungguh berbahaya meneruskan perjalanan pada saat seperti ini. Lebih baik kita singgah dulu ke tempat yang aman. Kalau hamba tak keliru, tempat terdekat dari sini adalah Pulau Tumasik. Bagaimana kalau kita ke sana sambil menunggu keadaan tenang,” kata kapten kapal.

Raja setuju. Perahu mereka pun merapat ke Pulau Tumasik.

Setelah mendarat, Raja meninggalkan kapal dan berkeliling melihat-lihat pulau itu. Ketika berkeliling itulah tiba-tiba seekor binatang berkelebat tak jauh darinya. Raja terkejut dan terpukau. Binatang itu begitu besar, berwarna keemasan, dan tampak gagah.

“Mahluk apakah itu?”

“Kalau hamba tak salah, orang-orang menyebutnya singa, Yang Mulia,” jawab salah seorang pengawal.

“Apa?”

“Singa.”

Raja lalu minta keterangan lebh banyak tentang biantang yang baru pertama kali dilihatnya itu. Dengan penuh perhatian Raja mendengarkana penjelasan pengawalnya.

“Kalau begitu, kita beri nama tempat ini Singapura. Artinya: Kota Singa”.

Sejak itulah kota itu bernama Singapura.


ASAL MULA GUNTUR
Dahulu kala peri dan manusia hidup berdampingan dengan rukun. Mekhala, si peri cantik dan pandai, berguru pada Shie, seorang pertapa sakti. Selain Mekhala, Guru Shie juga mempunyai murid laki-laki bernama Ramasaur. Murid laki-laki ini selalu iri pada Mekhala karena kalah pandai. Namun Guru Shie tetap menyayangi kedua muridnya. Dan tidak pernah membedakan mereka.
Suatu hari Guru Shie memanggil mereka dan berkata, “Besok, berikan padaku secawan penuh air embun. Siapa yang lebih cepat mendapatkannya, beruntunglah dia. Embun itu akan kuubah menjadi permata, yang bisa mengabulkan permintaan apapun.” Mekhala dan Ramasaur tertegun. Terbayang oleh Ramasaur ia akan meminta harta dan kemewahan. Sehingga ia bisa menjadi orang terkaya di negerinya. Namun Mekhala malah berpikir keras. Mendapatkan secawan air embun tentu tidak mudah, gumam Mekhala di dalam hati.
Esoknya pagi-pagi sekali kedua murid itu telah berada di hutan. Ramasaur dengan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman kecil lainnya. Tetapi hasilnya sangat mengecewakan. Air embun selalu tumpah sebelum dituang ke cawan. Sebaliknya, Mekhala dengan hati-hati menyerap embun dengan sehelai kain lunak. Perlahan diperasnya lalu dimasukan ke cawan. Hasilnya sangat menggembirakan. Tak lama kemudian cawannya telah penuh. Mekhala segera menemui Guru Shie dan memberikan hasil pekerjaannya.
Guru Shie menerimanya dengan gembira. Mekhala memang murid yang cerdik. Seperti janjinya, Guru Shie mengubah embun itu menjadi sebuah permata sebesar ibu jari. ” Jika kau menginginkan sesuatu, angkatlah permata ini sejajar dengan keningmu. Lalu ucapkan keinginanmu,” ujar Guru Shie. Mekhala mengerjakan apa yang diajarkan gurunya, lalu menyebut keinginannya. Dalam sekejap Mekhala telah berada di langit biru. Melayang-layang seperti Rajawali. Indah sekali.
Sementara itu, baru pada senja hari Ramasaur berhasil mendapat secawan embun. Hasilnya pun tidak sejernih yang didapat Mekhala. Tergopoh-gopoh Ramasaur menyerahkannya pada Guru Shie. “Meskipun kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapat hadiah atas jerih payahmu,” kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti. Kapak itu terbuat dari perak. Digunakan untuk membela diri bila dalam bahaya. Bila kapak itu dilemparkan ke sasaran, gunung pun bisa hancur.
Ternyata Ramasaur menyalahgunakan hadiah itu. Ia iri melihat Mekhala yang bisa melayang-layang di angkasa. Ramasaur segera melemparkan kapak itu ke arah Mekhala. Tahu ada bahaya mengancam, Mekhala menangkis kapak itu dengan permatanya. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dan cahaya yang sangat menyilaukan. Benturan itu terus terjadi hingga saat ini, berupa gelegar yang memekakkan telinga. Orang-orang menyebutnya “guntur”. Selengkapnya...